← Journal

Musik dalam Iklan: Kenapa Berpengaruh dan Risikonya

Justru karena musik bekerja sekuat itu, mereknya jadi terikat pada lagu yang bukan miliknya. Ini yang jarang dihitung tim pemasaran.

Fikri Makmur

10 September 2026

Seri Musik di Layar · Iklan, bagian 1 dari 6. Empat bagian sebelumnya membahas film. Enam bagian berikutnya pindah ke iklan, tempat aturannya paling ketat.

Bahwa musik dalam iklan berpengaruh besar bukan lagi dugaan. Penelitian di Indonesia berulang kali menunjukkan hal yang sama: iklan bermusik jauh lebih diingat daripada iklan tanpa musik, dan jingle paling kuat pengaruhnya terhadap ingatan merek.

Yang jarang dibicarakan bersamaan dengan temuan itu: justru karena musik bekerja sekuat itu, mereknya jadi terikat pada lagu yang sering bukan miliknya. Dan keterikatan itu punya harga yang tidak muncul di anggaran produksi.

Diagram dua sisi pengaruh musik dalam iklan. Sisi kiri berjudul yang membuatnya bekerja, berisi empat hal: musik menempelkan merek ke ingatan sehingga orang mengingat iklannya lewat melodinya, musik membawa perasaan yang tidak bisa disampaikan kata-kata dalam tiga puluh detik, musik membuat iklan dikenali bahkan ketika layarnya tidak dilihat, dan musik yang sama dipakai berulang membangun penanda yang lama-lama jadi milik mereknya di benak orang. Sisi kanan berjudul dan justru itu risikonya, berisi empat akibat: makin lekat musiknya dengan mereknya makin mahal biaya mengganti lagu itu kelak, izin yang berjangka membuat merek harus bernegosiasi ulang dari posisi lemah karena penonton sudah mengenali lagunya, lagu yang sama bisa dipakai merek pesaing bila izinnya tidak eksklusif, dan bila izinnya bermasalah materi yang sudah tayang harus ditarik beserta seluruh biayanya. Catatan bawah menegaskan bahwa keputusan memakai lagu terkenal atau memesan jingle sendiri bukan soal selera melainkan soal siapa yang memiliki penanda merek itu di kemudian hari
Empat hal yang membuatnya bekerja, dan empat akibat yang lahir dari hal yang sama.

Kenapa musik bekerja di iklan

  1. Ia menempelkan merek ke ingatan. Orang mengingat iklan lewat melodinya, sering jauh setelah lupa isi pesannya.
  2. Ia membawa perasaan yang tidak bisa disampaikan kata-kata dalam tiga puluh detik. Hangat, mendesak, nostalgik — musik menyampaikannya tanpa satu kalimat pun.
  3. Ia bekerja walau layarnya tidak dilihat. Iklan yang terdengar dari ruangan sebelah tetap mengenai sasaran.
  4. Ia membangun penanda. Musik yang sama, dipakai berulang, lama-lama jadi milik mereknya di benak orang.

Dan justru itu risikonya

Keempat hal di atas adalah alasan memakai musik. Keempatnya juga sumber empat risiko yang jarang dihitung:

Yang menguntungkanRisiko yang lahir darinya
Musiknya jadi lekat dengan mereknyaMakin lekat, makin mahal biaya menggantinya kelak
Izinnya berjangka waktuNegosiasi ulang dari posisi lemah — penonton sudah mengenalinya
Lagunya milik orang lainBisa dipakai pesaing, kalau izinmu tidak eksklusif
Materinya sudah tayang luasKalau izinnya bermasalah, penarikan menelan seluruh biayanya

Baris kedua yang paling sering menyakitkan. Merek yang berhasil membuat sebuah lagu jadi penandanya telah menaikkan nilai lagu itu — dan saat izinnya habis, kenaikan nilai itu ditagihkan kepadanya.

Pertanyaan yang sebenarnya sedang kamu putuskan

Karena itu, memilih antara memakai lagu terkenal atau memesan jingle sendiri bukan soal selera atau anggaran saja. Yang sebenarnya sedang kamu putuskan:

Siapa yang akan memiliki penanda merekmu lima tahun lagi?

  • Lagu terkenal berlisensi — cepat mengena karena orang sudah mengenalnya, tapi penandanya tidak pernah jadi milikmu.
  • Jingle pesanan — butuh waktu supaya dikenali, tapi begitu dikenali ia milik mereknya. Dibahas di bagian 6 sub-seri ini.

Jenis-jenis pemakaian musik di iklan dibedah di bagian 2, dan izinnya di bagian 3.

Yang perlu dihitung tim pemasaran sejak awal

  1. Berapa lama kampanyenya berjalan, dan apakah akan diulang tahun depan.
  2. Apakah materinya akan dipakai lintas media — televisi, media sosial, dalam gerai, acara.
  3. Apakah kamu keberatan lagunya dipakai merek lain dalam periode yang sama.
  4. Apa yang terjadi kalau izinnya tidak diperpanjang — punya rencana pengganti, atau tidak.

Empat pertanyaan itu menentukan bentuk izin yang kamu minta, dan bentuknya menentukan harganya — dibahas di bagian 5 sub-seri ini.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah musik benar-benar menaikkan penjualan?

Yang berulang kali terukur adalah ingatan terhadap merek, bukan langsung penjualannya. Ingatan itu prasyarat, bukan jaminan.

Lebih baik lagu populer atau jingle orisinal?

Bergantung jangka waktunya. Untuk kampanye pendek yang butuh cepat mengena, lagu populer. Untuk penanda merek jangka panjang, jingle orisinal hampir selalu lebih murah pada akhirnya.

Bagaimana dengan musik pustaka?

Paling praktis dan paling murah, tapi ia tidak membangun penanda — karena merek lain bisa memakai musik yang sama.

Kalau iklan saya cuma di media sosial?

Izinnya tetap diperlukan, dan pustaka musik di aplikasi tidak menutupinya untuk konten berbayar — dibahas di tulisan tentang cover lagu di TikTok dan Reels.

Apakah memakai lagu daerah lebih aman?

Belum tentu. Banyak yang disebut lagu daerah punya pencipta yang jelas — cara memeriksanya di tulisan tentang cara cek lagu public domain.

Ringkasnya

  • Musik menaikkan ingatan terhadap merek, dan jingle paling kuat pengaruhnya.
  • Justru karena bekerja sekuat itu, mereknya jadi terikat pada lagu yang bukan miliknya.
  • Makin lekat lagunya, makin mahal biaya menggantinya.
  • Merek yang berhasil menaikkan nilai lagu itu — lalu ditagih atas kenaikannya.
  • Yang sebenarnya kamu putuskan: siapa memiliki penanda merekmu lima tahun lagi.
  • Hitung empat hal sejak awal: jangka, media, eksklusivitas, rencana pengganti.

Sebelum menyetujui lagu untuk kampanye berikutnya, ajukan satu pertanyaan di rapat: “kalau tahun depan izin lagu ini tidak diperpanjang, apa rencana kita?” Kalau tidak ada yang punya jawaban, kamu baru saja menemukan biaya yang belum masuk anggaran.

Bagikan artikel ini

Ada pencipta lagu lain yang belum tahu ini. Kirimkan.

Ditulis oleh

Fikri Makmur

Music Industry Enthusiasm · Membangun Marketplace Lisensi Musik

Menulis dan merilis lagu Restu (2024) dan Terpisah (2025), lalu membangun Mamboo Engine — marketplace lisensi musik. Di sini saya menulis ide yang saya kerjakan sendiri: I am deeply interested in the music industry. I explore the music industry, studying areas like royalties, mechanical rights, performing rights, synchronization rights, and digital rights.

Semua tulisan Fikri

Lanjut membaca

Komentar

0
Komentar akan langsung tampil. Yuk, jaga diskusi tetap santun. 🙂

Memuat komentar…