← Journal

Royalti Lagu Diputar di Kafe: Siapa Bayar, Siapa Terima

Kafe yang memutar lagumu wajib membayar royalti. Ini rantai lengkapnya, dari tagihan di kasir sampai ke rekeningmu — dan di mana ia sering putus.

Fikri Makmur

22 Agustus 2026

Sebuah kafe di sudut kota menyetel lagumu sore ini. Tidak ada yang bertanya kepadamu, tidak ada yang mengirim pesan, dan kamu sendiri mungkin tidak pernah tahu. Secara hukum, yang baru saja terjadi adalah pemakaian karyamu untuk kepentingan komersial — dan royalti lagu diputar di kafe memang timbul dari peristiwa sekecil itu.

Pertanyaannya dua, dan jawabannya sering tertukar: siapa yang wajib membayar, dan apa yang harus sudah kamu kerjakan supaya bagian itu benar-benar sampai kepadamu. Halaman ini menjawab keduanya.

Diagram lima langkah perjalanan royalti dari kafe sampai ke pencipta lagu: lagu diputar, kafe membayar berdasarkan perjanjian lisensi, uangnya dihimpun bersama pembayaran pengguna lain dan dipotong biaya operasional, dibagi ke sisi hak cipta dan sisi hak terkait, lalu sampai ke pencipta; disertai tiga syarat yaitu menjadi anggota lembaga, karya terdaftar dengan data benar, dan pemutarannya terlaporkan
Lima langkah, tiga syarat. Uangnya berhenti di langkah mana pun yang syaratnya tidak terpenuhi.

Yang sebenarnya terjadi saat lagu diputar

Memperdengarkan lagu kepada publik adalah salah satu hak yang melekat pada penciptanya — dalam undang-undang disebut hak mengumumkan ciptaan, dan di industri lebih sering disebut performing rights. Ia berbeda dari hak menggandakan, dan berbeda pula dari hak memasang lagu di film atau iklan.

Yang menentukan bukan volume speaker, melainkan tujuannya. Memutar lagu di ruang tamu sendiri bukan pemakaian komersial. Memutarnya di ruang usaha yang menjual sesuatu — kopi, kamar, tiket, suasana — adalah pemakaian yang menimbulkan kewajiban.

Siapa yang wajib membayar

Ini kesalahpahaman yang paling merugikan, dan sudah berkali-kali diluruskan: yang membayar adalah pemilik usaha, bukan musisi yang tampil di sana.

Penyanyi yang manggung di kafe tidak dibebani kewajiban ini. Kewajibannya melekat pada tempat yang memanfaatkan musik untuk usahanya. Kalau kamu musisi yang manggung dan ada yang menagihmu atas nama royalti pertunjukan, itu bukan bagianmu untuk dibayar.

Cakupannya juga jauh lebih luas daripada kafe. Peraturan pemerintah tentang pengelolaan royalti lagu — PP Nomor 56 Tahun 2021 — menyebut bentuk layanan publik bersifat komersial yang terkena kewajiban ini, di antaranya:

  • Restoran, kafe, pub, bar, bistro, kelab malam, dan diskotek
  • Hotel, kamar hotel, dan fasilitasnya
  • Karaoke
  • Lembaga penyiaran televisi dan radio
  • Konser musik dan pameran
  • Bioskop, pusat rekreasi, dan pertokoan
  • Nada tunggu telepon, bank, dan perkantoran
  • Transportasi umum — pesawat, bus, kereta, kapal

Artinya kafe hanyalah wajah paling terkenal dari satu kewajiban yang jauh lebih luas. Lagumu bisa menghasilkan dari tempat yang tidak pernah kamu bayangkan.

Rantai mandatnya, dari kamu sampai ke tagihan

Uang itu tidak berpindah langsung dari kafe ke penciptanya. Ia melewati rantai, dan tiap mata rantainya punya syarat.

  1. Kamu memberi mandat. Sebagai pencipta — atau lewat penerbit musikmu, yang memang bertugas mengurus ini — hak menagih atas karyamu dititipkan kepada sebuah lembaga. Tanpa langkah ini, tidak ada yang berhak menagih atas namamu.
  2. Lembaganya membuat perjanjian dengan pengguna. Kafe berurusan dengan satu pihak untuk seluruh lagu yang mungkin ia putar, bukan dengan ribuan pencipta satu per satu.
  3. Pengguna membayar. Tarifnya mengikuti ukuran tempatnya — untuk restoran dan kafe lazimnya dihitung dari jumlah kursi — bukan dari lagu siapa yang kebetulan diputar.
  4. Uangnya dihimpun dan dipotong. Digabung dengan pembayaran seluruh pengguna lain, lalu dikurangi biaya operasional lembaganya.
  5. Sisanya dibagi. Ke sisi hak cipta — pencipta dan penerbitnya — dan ke sisi hak terkait, yaitu pelaku pertunjukan dan produser rekamannya.

Lembaga yang berdiri di tengah rantai ini, syarat izinnya, dan batas kewenangannya dibahas tersendiri di tulisan tentang lembaga manajemen kolektif. Kedudukannya di antara semua pihak lain ada di peta cara kerja industri musik.

Tiga syarat supaya uangnya sampai

Rantai di atas bisa berjalan sempurna sampai langkah kelima dan tetap tidak sampai kepadamu. Tiga hal ini yang menentukan, dan ketiganya ada di sisimu:

  • Kamu terdaftar sebagai anggota. Ini prasyarat, bukan formalitas. Hak ciptamu tetap milikmu tanpa mendaftar — tapi pemungutan kolektif hanya bekerja untuk yang memberi mandat. Langkahnya di panduan mendaftar jadi anggota WAMI.
  • Karyamu terdaftar dengan data yang benar. Judul, nama pencipta sesuai identitas, dan porsi bagian tiap orang. Data inilah yang dicocokkan saat pembagian; kalau ejaannya berbeda atau porsinya tidak jelas, bagianmu mengendap. Ini yang dibahas di tulisan tentang metadata sebelum rilis.
  • Pemutarannya terlaporkan. Yang tidak tercatat pernah diputar tidak bisa dibagi secara tepat ke siapa pun. Inilah mata rantai paling lemah di seluruh sistem, dan yang paling di luar kendalimu.

Kesalahan yang paling umum ada di syarat kedua: banyak pencipta menjadi anggota lalu berhenti di situ, tanpa pernah mendaftarkan lagu-lagunya. Keanggotaan membuka pintunya; pendaftaran karya yang mengisinya.

Berapa yang sampai ke penciptanya

Jawaban jujurnya: dari satu kafe, sangat kecil. Dan itu bukan tanda ada yang curang.

Sebabnya melekat pada cara kerjanya. Satu kafe membayar satu tagihan untuk seluruh lagu yang diputarnya sepanjang periode itu. Uang itu lalu dibagi ke semua pencipta yang lagunya tercatat diputar di sana. Kalau kafe itu memutar ratusan lagu berbeda dalam sebulan, bagian satu lagu adalah pecahan dari pecahan.

Yang membuat jalur ini berarti bukan satu tempat, melainkan banyak tempat sekaligus, terus-menerus, selama bertahun-tahun. Lagu yang bertahan diputar sepuluh tahun di ribuan tempat menghasilkan jauh lebih banyak daripada lagu yang meledak sebulan lalu hilang.

Rincian kenapa angkanya sering jauh di bawah harapan — dengan angka sungguhan — ada di peta aliran royalti LMKN dan WAMI.

Kalau kamu pemilik kafe

Situs ini ditulis untuk pencipta lagu, tapi sebagian pembacanya berdiri di sisi seberang — dan mengetahui sisi itu membuat percakapannya jauh lebih mudah.

  • Kewajibannya bersumber dari undang-undang, bukan dari kesepakatan sukarela. Memutar musik untuk suasana usaha termasuk pemakaian komersial.
  • Membeli lagu di toko digital tidak memberimu izin memutarnya di tempat usaha. Yang kamu beli adalah salinan untuk pemakaian pribadi. Ini kekeliruan yang paling sering terjadi.
  • Langganan layanan streaming pribadi juga tidak cukup. Syarat pemakaiannya hampir selalu membatasi ke penggunaan non-komersial; ada layanan khusus untuk ruang usaha.
  • Mintalah bukti kewenangan sebelum membayar kepada siapa pun. Yang menagih harus bisa menunjukkan izin operasionalnya. Membayar ke pihak yang tidak berwenang tidak menggugurkan kewajibanmu.
  • Musik langsung juga terhitung. Band yang membawakan lagu orang lain di tempatmu tetap pemakaian publik — dan yang menanggungnya tetap tempatnya, bukan bandnya.

Kesalahpahaman yang paling sering

Yang sering dikiraKenyataannya
Musisi yang manggung yang harus bayarPemilik tempatnya yang wajib membayar
Kalau lagunya jarang diputar, tidak wajibKewajibannya melekat pada pemakaian musik, bukan pada seberapa sering
Sudah bayar berarti boleh dipakai untuk apa sajaYang dibayar cuma izin memperdengarkan — merekam, menggandakan, atau memasangnya di video adalah izin lain
Pencipta bisa menagih kafe sendiriBisa secara hukum, tapi praktis mustahil satu per satu — itu sebabnya ada pemungutan kolektif
Royalti masuk otomatis kalau lagunya beredarHanya masuk kalau kamu anggota dan karyamu terdaftar dengan benar

Pertanyaan yang sering muncul

Kalau lagu saya diputar di kafe, apakah saya otomatis dapat uang?

Tidak. Kafe membayar ke lembaga pemungut, dan lembaga itu hanya bisa meneruskan ke orang yang memberinya mandat serta mendaftarkan karyanya. Kalau kamu belum pernah mendaftar ke mana pun, uang itu tetap terkumpul tapi tidak menemukan namamu.

Bagaimana lembaga tahu lagu saya yang diputar?

Dari laporan pemakaian yang dikumpulkan dari pengguna, dan dari pencocokan dengan data karya yang terdaftar. Semakin lengkap dan konsisten data karyamu, semakin besar peluangnya tercocokkan. Data yang berantakan adalah penyebab paling umum bagian yang mengendap.

Apakah kafe kecil juga wajib?

Kewajibannya tidak dibedakan berdasarkan besar kecilnya usaha, tapi tarifnya memang mengikuti ukuran tempat. Kafe dengan sepuluh kursi tidak membayar sama dengan restoran dengan dua ratus kursi.

Kalau kafe itu hanya menyetel radio, apakah tetap wajib?

Radio membayar untuk penyiarannya sendiri, bukan untuk pemakaian ulang di ruang usaha lain. Memperdengarkan siaran radio kepada pengunjung tetap merupakan pemakaian publik oleh tempat itu.

Saya pencipta sekaligus penyanyinya. Apakah saya dapat dua kali?

Bisa, karena satu pemutaran memuat dua hak yang berbeda: hak cipta atas lagunya, dan hak terkait atas rekaman serta pertunjukannya. Keduanya dikelola di jalur yang terpisah, dan mandat di satu sisi tidak dengan sendirinya berlaku di sisi yang lain.

Apa bedanya ini dengan royalti dari Spotify?

Beda pintu. Yang dari kafe adalah royalti pengumuman, dipungut kolektif. Yang dari layanan streaming mengalir lewat distributor dan label, dengan perhitungan sendiri. Peta seluruh pintunya ada di tulisan tentang lima jenis lisensi lagu.

Ringkasnya

  • Yang membayar adalah pemilik tempat, bukan musisi yang tampil di sana.
  • Cakupannya jauh lebih luas dari kafe — hotel, karaoke, radio, televisi, pertokoan, sampai transportasi umum.
  • Tarifnya dari ukuran tempat, bukan dari lagu siapa yang diputar.
  • Uangnya lewat rantai mandat: kamu → lembaga → perjanjian dengan pengguna → dihimpun → dibagi.
  • Tiga syarat di sisimu: jadi anggota, karya terdaftar dengan data benar, dan pemutarannya terlaporkan.
  • Dari satu kafe angkanya kecil. Yang membuatnya berarti adalah banyak tempat, terus-menerus, bertahun-tahun.

Halaman ini dibuat untuk dibagikan — ke pencipta lagu yang mengira royalti datang sendiri, dan ke pemilik usaha yang mengira membeli lagunya sudah cukup. Keduanya keliru karena alasan yang sama: mengira izin memperdengarkan itu satu hal yang otomatis, padahal ia punya jalur sendiri.

Bagikan artikel ini

Ada pencipta lagu lain yang belum tahu ini. Kirimkan.

Ditulis oleh

Fikri Makmur

Music Industry Enthusiasm · Membangun Marketplace Lisensi Musik

Menulis dan merilis lagu Restu (2024) dan Terpisah (2025), lalu membangun Mamboo Engine — marketplace lisensi musik. Di sini saya menulis ide yang saya kerjakan sendiri: I am deeply interested in the music industry. I explore the music industry, studying areas like royalties, mechanical rights, performing rights, synchronization rights, and digital rights.

Semua tulisan Fikri

Lanjut membaca

Komentar

0
Komentar akan langsung tampil. Yuk, jaga diskusi tetap santun. 🙂

Memuat komentar…