← Journal

Pembagian Royalti Pencipta dan Penerbit: Berapa Bagianmu?

Royalti penerbitan dibelah dua: bagian pencipta dan bagian penerbit. Ini isi tiap separuhnya, dan berapa yang benar-benar tinggal padamu.

Fikri Makmur

18 Agustus 2026

Seri Music Publishing · Bagian 2 dari 3. Bagian 1 memetakan apa itu music publishing dan lewat mana uangnya pulang. Bagian ini menghitung berapa yang tinggal padamu.

Pertanyaan pertama yang diajukan hampir semua pencipta lagu saat ditawari kontrak penerbitan bunyinya begini: “kok penerbitnya ambil 50 persen?” Yang membuat angka itu terdengar mengerikan adalah salah paham tentang kue yang sedang dibelah. Pembagian royalti pencipta dan penerbit memang lazim disebut 50 : 50 — tapi bukan 50 persen dari yang kamu kira.

Halaman ini membongkar mekanikanya sampai ke angka rupiah, karena inilah bagian yang paling sering dijelaskan setengah-setengah lalu ditandatangani orang tanpa benar-benar dimengerti.

Diagram pembagian royalti penerbitan: seluruh royalti dari satu lagu dibelah dua menjadi writer's share lima puluh persen yang selalu milik pencipta dan publisher's share lima puluh persen yang dirundingkan; di bawahnya tiga bentuk perjanjian dan hasilnya, yaitu administrasi tujuh puluh lima sampai sembilan puluh persen, co-publishing tujuh puluh lima persen, dan full publishing lima puluh persen
Satu kue, dua separuh — dan seluruh perundingan cuma terjadi di separuh kanan.

Satu lagu, satu kue, dibelah dua

Seluruh uang yang dihasilkan sebuah lagu dari sisi penerbitan — mekanikal, sinkronisasi, pengumuman, cetak — dianggap sebagai satu kue utuh: 100 persen. Menurut kelaziman industri, kue itu dibelah dua sejak awal:

  • Writer’s share — 50 persen. Bagian pencipta. Ini milikmu karena kamu yang menulis lagunya.
  • Publisher’s share — 50 persen. Bagian penerbit. Ini bagian yang disediakan untuk pihak yang mengurus lagunya.

Poin yang mengubah segalanya: kalau kamu belum punya penerbit, kedua separuh itu milikmu. Publisher’s share bukan sesuatu yang otomatis dimiliki orang lain — ia cuma nama untuk separuh yang biasanya diserahkan sebagai imbalan atas pekerjaan.

Writer’s share: separuh yang tidak pernah kamu lepas

Ini yang paling penting dan paling jarang dijelaskan: writer’s share tidak ikut dirundingkan. Bahkan pada perjanjian penerbitan yang paling berat sekalipun, separuh ini tetap tercatat atas namamu sebagai pencipta.

Jadi ketika sebuah tawaran berbunyi “kami ambil 50 persen”, yang dimaksud hampir selalu 50 persen dari publisher’s share atau seluruh publisher’s share — bukan separuh dari seluruh penghasilan lagumu. Kamu tetap memegang bagian penciptamu.

Kalau ada tawaran yang benar-benar mengambil sebagian writer’s share, itu bukan perjanjian penerbitan biasa. Itu pertanda ada yang perlu dipertanyakan — atau bahwa yang ditawarkan sebenarnya pelepasan hak, bukan penerbitan.

Publisher’s share: separuh tempat semua perundingan terjadi

Seluruh perbedaan antara satu bentuk perjanjian dan bentuk lainnya terjadi di separuh ini. Tiga bentuk yang paling sering ditemui, dan akibatnya pada angkamu:

BentukYang diambil penerbitSisa untukmuHak ciptanya
AdministrasiImbalan jasa 10–25% dari yang tertagih75–90%Tetap milikmu seluruhnya
Co-publishingSeparuh dari publisher’s share75%Sebagian dialihkan
Full publishingSeluruh publisher’s share50%Bagian penerbit lepas

Angka 75 persen pada co-publishing datang dari penjumlahan yang gampang dilupakan: writer’s share-mu yang 50 persen, ditambah separuh dari publisher’s share, yaitu 25 persen. Isi tiap bentuk perjanjiannya dibongkar di bagian 3 seri ini.

Contohnya dengan angka

Andaikan lagumu menghasilkan Rp100 juta royalti penerbitan sepanjang setahun — dari pemutaran di ruang publik, satu pemakaian iklan, dan streaming. Inilah yang sampai kepadamu:

BentukHitungannyaKamu terima
Tanpa penerbitSeluruhnya milikmu — tapi kamu sendiri yang menagihRp100 juta
Administrasi (jasa 20%)Rp100 juta − Rp20 jutaRp80 juta
Co-publishingRp50 juta (writer) + Rp25 juta (separuh publisher)Rp75 juta
Full publishingRp50 juta (writer saja)Rp50 juta

Sekarang bagian yang membuat tabel di atas menyesatkan kalau dibaca sendirian. Baris pertama mengandaikan Rp100 juta itu benar-benar tertagih. Padahal menagih dari puluhan pemakai di beberapa negara, mencocokkan laporan, dan mengejar yang tidak membayar adalah pekerjaan penuh waktu.

Kalau tanpa penerbit yang benar-benar tertagih cuma Rp30 juta, maka Rp50 juta dari full publishing lebih besar daripada Rp30 juta yang kamu urus sendiri. Persentase yang lebih kecil dari angka yang lebih besar bisa menang telak. Itulah pertanyaan yang sebenarnya: bukan “berapa persen”, melainkan “berapa persen dari berapa”.

Kalau lagunya ditulis berdua

Writer’s share dibagi lagi di antara para penciptanya. Dua orang menulis bersama, lazimnya masing-masing memegang separuh dari writer’s share — artinya 25 persen dari seluruh kue.

Dan tiap pencipta boleh punya penerbit yang berbeda. Satu lagu bisa punya dua penerbit yang masing-masing mengurus bagian penciptanya sendiri. Itu normal, dan itu sebabnya porsi tiap orang wajib disepakati tertulis sebelum lagunya menghasilkan.

Perselisihan porsi hampir selalu meledak belakangan, saat uangnya sudah ada dan ingatan tiap orang tentang siapa menulis apa sudah berbeda-beda. Cara mencatatnya dibahas di tulisan tentang metadata sebelum rilis.

Di mana pembagian ini terlihat di Indonesia

Pembagian writer/publisher bukan istilah yang muncul di undang-undang, tapi bekasnya terlihat nyata pada distribusi royalti pengumuman: uang yang terkumpul dari kafe, hotel, radio, dan televisi dibagi ke sisi pencipta dan sisi penerbit, bukan diserahkan bulat-bulat ke satu pihak.

Karena itu terdaftar sebagai pencipta di lembaga pemungut tetap penting meski kamu sudah punya penerbit — yang mengalir lewat penerbit adalah bagian penerbit; bagian penciptamu tetap perlu tercatat atas namamu. Lembaganya dijelaskan di tulisan tentang lembaga manajemen kolektif, dan jalur uangnya di peta aliran royalti LMKN dan WAMI.

Uang muka bukan hadiah

Tawaran penerbitan sering datang dengan uang muka, dan angkanya bisa menggoda. Yang perlu diketahui: uang muka hampir selalu dapat dipulihkan — ia dibayarkan di depan lalu dipotong dari royalti yang kelak jadi hakmu.

Artinya kamu tidak menerima royalti apa pun sampai uang muka itu tertutup lunas. Semakin besar uang mukanya, semakin lama kamu tidak menerima apa-apa. Mekanisme yang persis sama, dengan hitungan terbukanya, dijelaskan pada sisi rekaman di tulisan tentang master rekaman.

Kesalahpahaman yang paling mahal

Yang sering dikiraKenyataannya
Penerbit mengambil separuh penghasilan laguIa mengambil separuh yang disediakan untuknya; bagian penciptamu tetap utuh
50 : 50 itu ketentuan hukumKelaziman industri — bisa dirundingkan
Tanpa penerbit berarti dapat 100 persen100 persen dari yang berhasil kamu tagih sendiri, bukan dari yang seharusnya
Uang muka adalah bayaranPinjaman yang dipotong dari royaltimu sendiri
Sudah punya penerbit, tak perlu daftar sebagai penciptaBagian penciptamu tetap harus tercatat atas namamu

Pertanyaan yang sering muncul

Kalau saya tidak punya penerbit, siapa pemegang publisher’s share?

Kamu. Bagian itu tidak hilang dan tidak jatuh ke siapa pun secara otomatis. Dalam praktiknya kamu berperan sebagai penerbit atas lagumu sendiri — termasuk menanggung pekerjaan menagihnya.

Apakah persentasenya bisa ditawar?

Bisa, dan memang lazim ditawar. Yang menentukan posisi tawarmu adalah seberapa besar risiko yang ditanggung penerbit: katalog yang sudah menghasilkan memberi posisi jauh lebih kuat daripada lagu yang belum dirilis.

Berapa lama pembagian ini berlaku?

Tergantung jangka waktu perjanjiannya, dan inilah yang lebih menentukan daripada persentasenya. Perjanjian dengan bagian kecil tapi berlaku selamanya bisa jauh lebih merugikan daripada bagian besar yang berakhir dalam beberapa tahun.

Apakah pembagian ini berlaku juga untuk royalti rekaman?

Tidak. Ini khusus sisi penerbitan — hak atas lagunya. Royalti rekaman punya perhitungan sendiri, pihak yang berbeda, dan biasanya angka yang jauh lebih berat sebelah.

Kalau lagu saya dipakai di iklan, siapa yang menerima fee-nya?

Fee sinkronisasi masuk sebagai penghasilan penerbitan, lalu dibagi mengikuti pembagian yang sama. Jenis-jenis pemakaian yang menghasilkan uang penerbitan ada di tulisan tentang lima jenis lisensi lagu.

Ringkasnya

  • Royalti penerbitan dibelah dua: writer’s share 50% dan publisher’s share 50%.
  • Writer’s share tidak pernah ikut dirundingkan. Ia tetap milikmu pada bentuk perjanjian mana pun.
  • Tanpa penerbit, kedua separuh itu milikmu — berikut seluruh pekerjaan menagihnya.
  • Administrasi menyisakan 75–90%, co-publishing 75%, full publishing 50%.
  • Pertanyaan yang benar bukan “berapa persen”, melainkan “berapa persen dari berapa”.
  • Uang muka dapat dipulihkan — ia dipotong dari royaltimu sendiri.

Lanjutannya, bagian 3, membongkar isi tiap bentuk perjanjian: siapa mengerjakan apa, berapa lama berlakunya, dan apa yang terjadi saat ia berakhir — empat bentuk kontrak publisher musik.

Bagikan artikel ini

Ada pencipta lagu lain yang belum tahu ini. Kirimkan.

Ditulis oleh

Fikri Makmur

Music Industry Enthusiasm · Membangun Marketplace Lisensi Musik

Menulis dan merilis lagu Restu (2024) dan Terpisah (2025), lalu membangun Mamboo Engine — marketplace lisensi musik. Di sini saya menulis ide yang saya kerjakan sendiri: I am deeply interested in the music industry. I explore the music industry, studying areas like royalties, mechanical rights, performing rights, synchronization rights, and digital rights.

Semua tulisan Fikri

Lanjut membaca

Komentar

0
Komentar akan langsung tampil. Yuk, jaga diskusi tetap santun. 🙂

Memuat komentar…