← Journal

Satu Lagu Dikelola Dua Penerbit: Kenapa Bisa Begitu

Bukan kekacauan, melainkan akibat wajar dari kontrak yang perseorangan. Tapi satu pihak yang tidak membalas cukup untuk membatalkan tawaran.

Fikri Makmur

29 Agustus 2026

Seri Penerbit Musik · Bagian 9 dari 9, penutup. Bagian ini akibat langsung dari dua hal yang sudah dibangun sebelumnya: kontrak yang perseorangan, dan porsi antar-penulis.

Satu lagu dikelola dua penerbit terdengar seperti kekacauan administrasi. Ia bukan. Ia keadaan yang wajar, sering terjadi, dan sepenuhnya bisa diperkirakan — asal kamu tahu dua hal yang sudah dibahas seri ini.

Sebabnya sederhana: perjanjian penerbitan bersifat perseorangan, dan lagu sering ditulis lebih dari satu orang. Kalau dua penulis memilih penerbit yang berbeda, lagunya otomatis punya dua pengelola — masing-masing atas porsi penulisnya sendiri.

Diagram membelah lalu menyatu kembali. Di puncak ada satu lagu yang ditulis dua orang. Dari situ jalurnya membelah jadi dua porsi: porsi penulis A sebesar lima puluh persen, dan porsi penulis B sebesar lima puluh persen. Tiap porsi turun ke penerbitnya sendiri, yaitu penerbit satu untuk penulis A dan penerbit dua untuk penulis B, karena perjanjian penerbitan bersifat perseorangan sehingga tiap penulis memilih sendiri. Masing-masing penerbit hanya berwenang melisensikan porsi penulisnya. Di bawahnya kedua jalur harus bertemu kembali di satu gerbang bertuliskan izin lengkap, karena pihak yang mau memakai lagu itu secara utuh membutuhkan persetujuan dari semua pemegang porsi. Sesudah gerbang itu barulah pemakai boleh berjalan. Catatan bawah menegaskan bahwa satu pihak yang menolak, atau sekadar tidak membalas, sudah cukup untuk membatalkan pemakaian seluruh lagunya, dan inilah sebab nyata banyak tawaran iklan dan film mati diam-diam
Membelah itu wajar. Yang menentukan adalah gerbang di bawah — keduanya harus bertemu lagi sebelum siapa pun boleh memakai lagunya.

Kenapa bisa terjadi

  1. Lagunya ditulis lebih dari satu orang. Porsi masing-masing dihitung seperti dibahas di tulisan tentang pembagian hak cipta lagu lirik dan melodi.
  2. Tiap penulis memilih penerbitnya sendiri. Ia tidak bisa diwakilkan — sifat itu dijelaskan di tulisan tentang cara kerja penerbit musik.
  3. Maka satu lagu punya dua pengelola, masing-masing berwenang atas porsi penulisnya saja.

Perhatikan kata terakhir itu: porsinya saja. Penerbitmu tidak berwenang melisensikan bagian rekan penulismu, sekalipun ia yang lebih besar, lebih aktif, atau lebih dulu bekerja.

Akibat yang paling menentukan

Ini bagian yang jarang dijelaskan, dan yang paling sering membuat peluang menguap tanpa ada yang mengerti kenapa.

Pihak yang mau memakai satu lagu secara utuh butuh izin dari semua pemegang porsinya. Bukan dari yang terbesar, bukan dari yang paling mudah dihubungi — dari semuanya.

Artinya:

  • Satu pihak yang menolak cukup untuk membatalkan. Meski porsinya cuma 10 persen.
  • Satu pihak yang tidak membalas juga cukup. Dan ini yang paling sering terjadi — bukan penolakan, melainkan diam.
  • Waktunya jadi lama. Rumah produksi yang butuh lagu dalam dua minggu akan menyerah dan mencari lagu lain.

Inilah sebab nyata banyak tawaran iklan dan film mati diam-diam. Bukan karena lagunya kurang bagus, dan bukan karena bayarannya kurang — melainkan karena izinnya tidak bisa dilengkapi tepat waktu.

Yang bisa kamu siapkan supaya tidak jadi masalah

Yang disiapkanKenapa
Lembar porsi tertulisJudul, tanggal, nama tiap penulis, porsinya, disetujui semuanya
Daftar siapa mengurus porsi siapaSupaya calon pemakai tahu harus menghubungi berapa pihak
Kontak yang masih hidupNomor dan surel rekan penulismu yang benar-benar terpakai
Kesepakatan menjawab cepatSepakati di muka bahwa tawaran dijawab dalam sekian hari
Sikap atas pemakaian tertentuIklan rokok? Kampanye politik? Sepakati sebelum tawarannya datang

Baris terakhir itu yang paling sering luput. Perbedaan pendapat tentang jenis pemakaian jauh lebih sulit diselesaikan di bawah tekanan tenggat daripada dibicarakan saat santai.

Kalau kamu di pihak yang mau memakai lagunya

  1. Tanyakan sejak awal ada berapa pemegang porsi. Ini pertanyaan pertama, bukan terakhir.
  2. Mulai dari yang paling sulit dihubungi. Bukan dari yang paling mudah.
  3. Jangan mulai produksi sebelum semuanya lengkap. Izin sebagian bukan izin.
  4. Sediakan waktu lebih. Melengkapi izin lagu yang ditulis beramai-ramai butuh waktu berlipat.

Bukan cuma dua

Lagu yang ditulis empat orang bisa punya empat penerbit. Ditambah lagi kalau salah satu penulisnya sudah wafat dan porsinya beralih ke beberapa ahli waris — hak ekonomi memang berlanjut, seperti dibahas di tulisan tentang hak ekonomi pencipta lagu.

Semakin banyak pemegangnya, semakin kecil kemungkinan izinnya lengkap tepat waktu. Itu sebabnya sebagian penulis lagu memilih menyerahkan pengurusan kepada satu pihak bersama, sekalipun penerbitnya berbeda-beda.

Pertanyaan yang sering muncul

Bisakah penerbit saya melisensikan seluruh lagunya?

Tidak, kecuali ia juga memegang kuasa atas porsi penulis lain. Yang bisa ia lisensikan cuma porsimu.

Kalau porsi saya 90 persen, apakah saya bisa memutuskan sendiri?

Tidak. Besarnya porsi menentukan berapa bagian uangnya, bukan siapa yang berwenang memutuskan.

Bagaimana kalau rekan penulis saya tidak bisa dihubungi sama sekali?

Pemakaian utuh jadi tersendat, dan tidak ada jalan pintas yang aman. Karena itu menjaga kontak yang hidup adalah pekerjaan, bukan kesopanan.

Apakah ini juga berlaku untuk pemutaran di kafe dan radio?

Tidak dengan cara yang sama. Pemutaran ke publik dipungut secara kolektif, jadi izinnya tidak dinegosiasikan satu per satu — dijelaskan di tulisan tentang hak mengumumkan lagu. Yang butuh izin lengkap adalah pemakaian yang dinegosiasikan langsung.

Apakah lebih baik kami semua memakai penerbit yang sama?

Lebih sederhana, ya. Tapi itu keputusan masing-masing dan tidak bisa dipaksakan — karena kontraknya perseorangan. Gambaran umum apa yang dikerjakan penerbit ada di tulisan tentang music publishing.

Apakah royalti pemutaran juga tertahan kalau salah satu tidak terdaftar?

Bagian yang tidak terdaftar mengendap, dan porsi yang tidak genap bisa ikut menahan bagian yang lain. Alur uangnya ada di tulisan tentang ke mana royalti lagu mengalir.

Ringkasnya

  • Satu lagu bisa punya beberapa penerbit, dan itu wajar — bukan kekacauan.
  • Sebabnya: kontrak perseorangan ditambah lagu yang ditulis beramai-ramai.
  • Tiap penerbit cuma berwenang atas porsi penulisnya sendiri.
  • Pemakaian utuh butuh izin dari semuanya — satu yang diam sudah cukup membatalkan.
  • Besarnya porsi menentukan uangnya, bukan kewenangannya.
  • Yang menyelamatkan: lembar porsi tertulis, daftar pengelola, kontak yang hidup, kesepakatan menjawab cepat.

Seri ini berakhir di sini. Kalau kamu cuma sempat mengerjakan satu hal sesudah membacanya, kerjakan yang ini: untuk tiap lagu yang kamu tulis bersama orang lain, buat satu berkas berisi porsi masing-masing dan siapa yang mengurusnya, lalu kirimkan ke semua penulisnya. Berkas itu yang menentukan apakah tawaran berikutnya jadi atau menguap.

Bagikan artikel ini

Ada pencipta lagu lain yang belum tahu ini. Kirimkan.

Ditulis oleh

Fikri Makmur

Music Industry Enthusiasm · Membangun Marketplace Lisensi Musik

Menulis dan merilis lagu Restu (2024) dan Terpisah (2025), lalu membangun Mamboo Engine — marketplace lisensi musik. Di sini saya menulis ide yang saya kerjakan sendiri: I am deeply interested in the music industry. I explore the music industry, studying areas like royalties, mechanical rights, performing rights, synchronization rights, and digital rights.

Semua tulisan Fikri

Lanjut membaca

Komentar

0
Komentar akan langsung tampil. Yuk, jaga diskusi tetap santun. 🙂

Memuat komentar…