Pembagian Hak Cipta Lagu: Lirik dan Melodi Berapa Persen
Lagumu punya dua bagian yang dihitung terpisah, dan 50:50 itu kebiasaan bukan aturan. Ini cara menghitungnya saat lagunya ditulis beramai-ramai.
28 Agustus 2026
Seri Penerbit Musik · Bagian 8 dari 9. Dua bagian sebelumnya membedah bentuk kontraknya. Bagian ini soal angka yang harus kamu isi di dalamnya.
Pembagian hak cipta lagu lirik dan melodi adalah angka yang wajib kamu cantumkan saat mendaftarkan karya atau menandatangani perjanjian penerbitan — dan angka yang paling sering diisi asal-asalan, lalu jadi sumber pertengkaran bertahun-tahun kemudian.
Sebuah lagu dihitung sebagai dua bagian: notasinya (melodi dan susunan musiknya) dan liriknya. Kebiasaan di industri membaginya 50 banding 50 — tapi perlu ditegaskan sejak awal: itu kebiasaan, bukan aturan. Tidak ada pasal yang mewajibkannya.
Kenapa dibelah dua lebih dulu
Karena melodi dan lirik adalah dua sumbangan yang berbeda, dan sering datang dari orang yang berbeda. Membelahnya lebih dulu membuat perhitungan tetap masuk akal ketika susunan penulisnya rumit.
Contohnya: kamu menulis melodinya sendirian, dan liriknya ditulis dua orang lain berdua. Tanpa pembelahan tingkat pertama, kalian bertiga akan berdebat tentang satu angka. Dengan pembelahan itu, jawabannya langsung terlihat — kamu 50, mereka 25 masing-masing.
Cara menghitungnya
- Tentukan pembelahan tingkat pertama. Umumnya 50 notasi dan 50 lirik. Kalau kalian sepakat berbeda, tuliskan angkanya.
- Belah sisi notasi menurut siapa saja yang menulisnya dan porsinya.
- Belah sisi lirik dengan cara yang sama.
- Jumlahkan per orang, lalu pastikan totalnya genap 100 persen.
| Siapa | Notasi | Lirik | Total |
|---|---|---|---|
| Penulis A | 25% | — | 25% |
| Penulis B | 25% | — | 25% |
| Penulis C | — | 50% | 50% |
| Jumlah | 50% | 50% | 100% |
Baris terakhir itu bukan formalitas
Jumlah yang tidak genap 100 persen adalah salah satu sebab paling umum pembayaran tertahan. Sistem pembagian royalti tidak membayar klaim yang jumlahnya 95 atau 110 persen — ia menahannya sampai ada koreksi.
Dan koreksi itu butuh persetujuan semua pihak. Kalau salah satu penulis sudah sulit dihubungi, uangnya bisa mengendap bertahun-tahun. Sebab-sebab lain yang membuat uang tidak sampai dibahas di tulisan tentang pendapatan pencipta lagu yang sering terlewat.
Yang tidak masuk hitungan ini
- Aransemen — kecuali kalian sepakat memasukkannya. Aransemen punya jalurnya sendiri sebagai karya turunan, dibahas di tulisan tentang karya derivatif lagu.
- Produksi rekaman — itu sisi rekaman, bukan sisi lagu. Pemisahannya di tulisan tentang master rekaman lagu.
- Permainan alat musik di rekaman — itu hak terkait sebagai pelaku pertunjukan, bukan hak cipta lagu.
- Memberi masukan atau semangat. Ini terdengar sepele, tapi ia sumber pertengkaran nyata di studio.
Garis pemisahnya: apakah orang itu menyumbang melodi atau kata yang bisa ditunjuk di dalam lagu. Kalau tidak bisa ditunjuk, ia bukan pencipta — sekalipun sumbangannya berharga.
Sepakati sebelum lagunya menghasilkan
Ini nasihat yang paling sering diabaikan dan paling mahal akibatnya. Sebelum ada uang, semua orang murah hati dan ingatannya sama. Sesudah ada uang, ingatan tiap orang tentang siapa menulis apa mulai berbeda-beda — dan tidak ada yang berbohong; ingatan memang begitu.
Yang perlu ditulis, cukup satu paragraf: judul lagunya, tanggalnya, nama tiap penulis, porsi notasi dan lirik masing-masing, dan tanda tangan atau persetujuan tertulis semuanya. Sepuluh menit di hari lagunya selesai.
Angka yang sama itu pula yang kamu isi saat mencatatkan karyanya — langkahnya ada di panduan mendaftarkan hak cipta lagu. Mengisinya berbeda antara satu tempat dan tempat lain adalah salah satu sebab paling umum pembayaran tertahan.
Kalau tiap penulis punya penerbit berbeda
Ini yang terjadi dalam praktik, dan ia normal — karena perjanjian penerbitan bersifat perseorangan, seperti dijelaskan di tulisan tentang cara kerja penerbit musik. Akibatnya satu lagu bisa dikelola beberapa penerbit sekaligus, masing-masing atas porsi penulisnya. Cara kerjanya dibahas di bagian 9, penutup seri ini.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah 50:50 wajib?
Tidak. Ia kebiasaan yang dipakai sebagai titik awal karena praktis. Kalian bebas menyepakati angka lain, asal ditulis.
Saya menulis melodi dan lirik sendirian. Berapa porsi saya?
Seratus persen, dan tidak perlu ada pembelahan tingkat kedua sama sekali.
Bagaimana kalau ada yang menyumbang satu baris lirik saja?
Itu keputusan kalian, dan tidak ada rumusnya. Yang penting: putuskan, lalu tulis. Membiarkannya kabur jauh lebih buruk daripada angka mana pun yang kalian pilih.
Apakah porsi ini menentukan bagian penerbit juga?
Tidak langsung. Porsi ini menentukan bagianmu di antara sesama penulis. Bagian penerbit dihitung dari porsimu, dan itu lapisan yang berbeda — dibedah di tulisan tentang pembagian royalti pencipta dan penerbit.
Bisakah porsinya diubah kemudian?
Bisa, kalau semua pihak setuju. Yang sulit bukan aturannya, melainkan mengumpulkan persetujuan orang-orang yang sudah lama tidak berhubungan.
Ringkasnya
- Satu lagu dihitung sebagai dua bagian: notasi dan lirik.
- 50:50 itu kebiasaan, bukan aturan — tidak ada pasal yang mewajibkannya.
- Belah tingkat pertama dulu, baru belah antar-penulis di tiap sisi.
- Jumlah seluruh porsi wajib genap 100 persen, atau pembayarannya ditahan.
- Aransemen, produksi, dan permainan alat musik tidak masuk hitungan ini.
- Sepakati tertulis di hari lagunya selesai, bukan sesudah ada uang.
Kalau kamu punya lagu yang ditulis beramai-ramai dan porsinya belum pernah ditulis, kerjakan yang ini hari ini: kirim satu pesan ke rekan penulismu berisi angka usulan, dan minta balasan yang menyetujuinya. Percakapan itu jauh lebih mudah sekarang daripada nanti — dan balasan yang tersimpan itu sudah cukup jadi bukti.
Bagikan artikel ini
Ada pencipta lagu lain yang belum tahu ini. Kirimkan.
Ditulis oleh
Fikri MakmurMusic Industry Enthusiasm · Membangun Marketplace Lisensi Musik
Menulis dan merilis lagu Restu (2024) dan Terpisah (2025), lalu membangun Mamboo Engine — marketplace lisensi musik. Di sini saya menulis ide yang saya kerjakan sendiri: I am deeply interested in the music industry. I explore the music industry, studying areas like royalties, mechanical rights, performing rights, synchronization rights, and digital rights.
Semua tulisan Fikri →Lanjut membaca
Menggandakan Lagu untuk Keperluan Sendiri: Batasnya
Garisnya bukan antara untuk diri sendiri dan untuk uang. Melainkan apakah salinannya keluar dari pemakaianmu sendiri — meski cuma ke satu orang.
24 September 2026
Music 101Menarik Lagu dari Peredaran: Bisa atau Tidak?
Bergantung siapa memegang apa. Dan ada tiga tujuan yang selalu dilebur jadi satu permintaan, padahal menuntut perbuatan yang berbeda.
23 September 2026
Music 101Kerugian Tidak Punya Penerbit Musik: Apa yang Hilang
Lima hal yang benar-benar hilang — dan empat yang tidak. Batas kerugiannya penting diketahui supaya keputusanmu bukan karena takut.
23 September 2026
Komentar
0Memuat komentar…